.

Tampilkan posting dengan label Pendidikan. Tampilkan semua posting
Tampilkan posting dengan label Pendidikan. Tampilkan semua posting

Pola Pendidikan Revolusioner

Posted by Irma14 Minggu, 28 Desember 2008 7 comments
Sekarang telah menghilang banyak pekerjaan yang lama –sehingga menghilang juga kebutuhan untuk mempertahankan keterampilan lama. Bersamaan dengan itu telah lahir banyak pekerjaan baru yang memerlukan keterampilan baru. Keterampilan baru itu harus dipelajari dengan cepat. Untuk itu, kita memerlukan pelajaran cara belajar- learning how to learn.

Berkat kerjasama dari para peneliti di berbagai bidang, Kini telah ditemukan metode belajar cepat, yang secara popular kita sebut sebagai accelerated learning. Dan bagaimana metode ini digunakan dalam lembaga pendidikan dan dunia business dan industri.


Accelerated learning dikembangkan karena kita hidup di dunia di mana kemampuan untuk menyerap informasi secara cepat yang logis dan kreatif.Dan salah satu pertanyaan yang menjadi suatu keniscayaan adalah bagaimana meningkatkan kemampuan kita dalam menyikapi segala perubahan yang sangat cepat ini. Seperti yang dikatakan Tom Peter The Only Constant Thing is Change.

Saya sangat sepakat dengan salah satu upaya dalam meningkatkan pola pendidikan kita yakni Life Skill, Sebagai upaya pengantar ke arah perubahan dalam sistem pendidikan kita selama ini.

Life skill adalah keterampilan yang kita pergunakan:

1. Untuk mencapai kebebasan finansial (financial independence), sehingga waktu kita tidak dihabiskan untuk hanya mencari uang.

2. Untuk berkomunikasi dan berinteraksi dengan orang lain sehingga kita bisa hidup bahagia.

3. Untuk mengatasi stress (how to cope with stress) sehingga kita dapat meningkatkan kesehatan mental (dan fisik) yang berkaitan sekali dengan produktivitas

4. Untuk mengembangkan kemampuan menemukan makna dan missi kehidupan.

Sudahkah kita memiliki keterampilan diatas ? kalau belum mungkin ini bukan hanya menjadi tugas dan beban yang harus diemban oleh Lembaga Pendidikan, Dosen dan Guru. Tetapi ini adalah tugas dan tanggung jawab kita semua. Karna bagaimana pun juga INDONESIA kita ini hanya bisa dibangkitkan dengan kebangkitan jiwa dari setiap individu-individu yang ada didalamnya.

Saya sangat berharap kepada teman-teman yang sudi menyempatkan membaca artikel ini untuk membangkitkan semangat untuk berkarya dan terus menerus melatih diri lebih keras lagi (karna hidup ini keras kawan), demi tercapainya INDONESIA JAYA cita-cita tertinggi dari leluhur kita di masa lalu..............................

JAYALAH INDONESIAKU


Baca Selengkapnya ....

Relevansi Pendidikan dengan Perkembangan Zaman

Posted by Irma14 Kamis, 25 Desember 2008 11 comments
Jauh sebelum Krisis ekonomi yang melanda dunia saat ini, Simaklah apa yang dilaporkan oleh Colin Rose dan Malcolm J. Nicholl dalam bukunya The Accelerated Learning for the 21st Century:
- Bank-bank komersial dan perusahaan-perusahaan simpan-pinjam di Amerika Serikat (pada 1997) telah mem-PHK 300.000 orang dalam waktu lima tahun terakhir –dan pada akhir abad ke-20, 700.000 jenis pekerjaan akan menghilang. Jumlah itu sama dengan 30% dari seluruh angkatan kerja. Perusahaan-perusahaan asuransi juga mengikuti jejak yang sama. “Empat puluh persen pekerja asuransi akan hengkang dari pekerjaannya dalam jangka lima tahun ke depan,” demikian berita utama dalam The Times (London).

- AT&T mengganti 6.000 operator jarak jauh (dan 400 pekerjaan manajerial) karena teknologi mengenali-suara. Selama sepuluh tahun, 40% pekerja telah dilepas, sementara itu sambungan telepon justru meningkat 50%. Bisnis telekomunikasi, secara keseluruhan, telah menghapus 180.000 jenis pekerjaan dalam waktu delapan tahun.

- Lebih dari 40.000 pegawai pos Amerika Serikat menjadi ‘menganggur’ sejak teknologi sight-recognition (mengenali-penglihatan) diperkenalkan enam tahun sebelumnya.

- Perdagangan ritel akan mengalami perubahan mendasar dengan munculnya “jalan raya” informasi. Seiring dengan datangnya abad TV interaktif, Anda bisa menyaksikan film yang ditransmisikan melalui sambungan telepon. Fenomena itu berarti akan terhapusnya toko-toko rental video, dan ditutupnya perusahaan-perusahaan penduplikasi yang memasok video bagi toko-toko rental tersebut. Dan, tentu saja, melalui TV interaktif Anda dapat membeli banyak barang kebutuhan Anda langsung dari pabriknya sehingga memotong distribusi pemasaran.

Dan kemudian krisis itu masih terus berlanjut hingga hari ini, dan bukan itu saja, indonesiah malah mulai merasakan krisis yang terus menghantam perekonomian dunia hari ini................

Mari kita menghela nafas sejenak. Apa makna semua itu bagi kita dan anak-anak kita? Adakah “sisi baik” dan juga “sisi buruk” dari visi tentang dunia dengan jumlah penduduk lebih banyak namun pekerjaan lebih sedikit? Apakah implikasi bagi masa depan Anda sebagai seorang pelaku pembelajaran? Bagaimana kita seharusnya mendidik anak-anak kita dari sudut pandang pasaran kerja yang kian menyusut?”.

Saya ingin mengajak civitas akademika untuk menambah pertanyaan ini: Apakah pola pendidikan yang kita ajarkan relevan dengan jenis pekerjaan yang akan mereka hadapi nanti ? Bagaimanakah mereka harus mengubah keterampilan dan pengetahuan mereka sehingga sesuai dengan perubahan-perubahan besar yang terjadi di seluruh dunia ?.

Sangat ironis kalau kita menghabiskan waktu untuk memperoleh keterampilan dalam pekerjaan yang segera ketinggalan zaman begitu anak didik kita memasuki dunia kerja. Sia-sialah biaya dan waktu yang telah dihabiskan. Sia-sia jugalah kurikulum yang telah begitu bagus kita rumuskan.

Perubahan besar-besaran yang terjadi di sekitar kita bukan hanya menuntut kita untuk meninjau kurikulum, tetapi juga mendesak kita untuk mempersiapkan anak didik kita bertarung dalam sebuah revolusi.

To..be.. Continued.. :)

Baca Selengkapnya ....

Reformasi Pendidikan

Posted by Irma14 Kamis, 04 September 2008 4 comments
"Indonesia Raya Merdeka...Merdeka...
Tanahku... Negriku..Semuaanya.....
Bangunlah Jiwanya... Bangunlah...Badannya...
Untuk Indonesia Raya.............."

Setiap Tanggal 17 Agustus.. atau pada acara-acara seremonial resmi, selalu saja kita mendengarkan lirik lagu diatas. Tapi yang menjadi pertanyaan sekarang adalah apakah kita telah benar-benar merdeka..?
Apalagi di bidang pendidikan. Apakah Pendidikan kita di indonesia telah benar-benar memerdekakan manusia dari kebodohan, dari kekerdilan moral, dari ketamakan, dari keserakahan ?? Apakah kita telah merdeka ??


Mungkin kita semua sepakat bahwa sampai hari ini kita belum merdeka sepenuhnya. Kemerdekaan itu hanyalah sebuah mimpi yang belum menjadi kenyataan di negara kita ini. Tapi apakah kita akan terus-menerus bermimpi ??

" Bangunlah Jiwanya... Bangunlah... Badannya.... "

Ibarat Sebuah komputer (yang kemudian disebut Hardware), tidak akan berguna jika tidak di install program aplikasi (yang kemudian disebut Software). Sehingga Tanpa Software maka Komputer tidak berguna sama sekali. Demikian juga halnya dengan Badan yang tidak memiliki nurani/jiwa.

Ada pesan dari orang tua kita dulu yang kira-kira seperti ini : "Nda' usah mako jadi orang pintar nak, ka banyakmi orang pintar diluar sana, tapi jadilah orang yang berguna untuk orang laen". Pesan inilah yang kemudian harusnya menjadi motivasi kita untuk terus belajar dan meningkatkan kemampuan kita, karna menurut saya untuk menjadi berguna bagi orang lain, tidak ada jalan lain kecuali mempersembahkan karya bagi mereka. dimana karya tersebut adalah hasil dari kerja keras kita.

So... Gimana dengan kemerdekaan di bidang Pendidikan ???

Menurut Andreas Harefa..
"...Seharusnya, proses pembelajaran, apalagi di perguruan tinggi, bertujuan untuk membuat kaum muda bertumbuh menjadi manusia (being human) yang serba siap menghadapi realitas kehidupan nyata. Ia seharusnya menjadi "siap hidup" secara relatif mandiri, tanpa membebani orangtua, pemerintah, dan masyarakat (sarjana kok nganggur). Ia seharusnya menjadi "siap belajar" tanpa harus didampingi lagi oleh pengajar/dosen di sekolah besar kehidupan (sarjana kok nggak baca buku lagi). Ia seharusnya menjadi "siap berkarya", menjadi kontributor aktif dalam proses pemberdayaan masyarakat (bukan malah jadi provokator). Ia seharusnya menjadi manusia yang "siap hidup bersama" dalam aneka ragam perbedaan dengan manusia-manusia lain di masyarakat yang pluralistik seperti Indonesia (tidak kurang gaul atau kuper)...".

Untuk itu kita mesti membangun sebuah paradigma baru dalam dunia pendidikan kita. Sebuah paradigma yang dibangun atas dasar kebutuhan kita untuk menjadi manusia paripurna. karna kita tidak dilahirkan sempurna, namun kita memiliki potensi untuk menjadi sempurna dan untuk itu kita mesti berupaya keras untuk membangun jiwa kita yang mungkin sudah sekarat....

Tegasnya, kita perlu membangun masyarakat pembelajar, yang terutama belajar membagi tugas dan tanggung jawab untuk mendampingi kaum muda mengejar jati dirinya, jati diri komunitasnya, jati diri bangsanya, jati diri kemanusiaannya sebagai ciptaan Tuhan. Kita perlu membangun masyarakat pembelajar, yang tidak lagi dan tidak akan pernah lagi, membuang tunas-tunas bangsa ke lembaga-lembaga pengajaran versi Orde Baru, tetapi yang di dalam maupun diluar institusi formal, sama-sama belajar di Sekolah Besar Kehidupan. Disanalah 'Ketuhanan Yang Maha Esa' dihayati dan langsung diamalkan diam-diam. Disanalah 'Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab' diimplementasikan dan dipraktikkan tanpa slogan-slogan. Disanalah benang-benang 'Persatuan Indonesia' kita jahit kembali dengan hati-hati dan dari hati ke hati. Disanalah 'Kerakyatan yang dipimpin oleh Hikmat dan Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan Perwakilan' kita jalankan setulus hati dengan belajar untuk saling mengerti, saling menyepakati, mengakui kesalahan, dan mengampuni tanpa dendam. Disanalah 'Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia' kita demonstrasikan dengan sikap peduli, rendah hati, dan cinta dalam hidup sehari-hari.
Apakah itu akan mudah? Pasti tidak. Paling sedikit diperlukan satu generasi, 15-25 tahun. Tapi mungkin disitulah tantangannya, dan disitu pulalah harapannya. Dan sepanjang kita mau belajar, baik sebagai pribadi (individual learning), sebagai kelompok (team learning), maupun sebagai organisasi (organizational learning), dan sebagai sebuah masyarakat bangsa (national learning), maka pembelajaran memungkinkan tidak saja reformasi, tetapi juga transformasi dari bangsa yang memalukan menjadi bangsa yang membanggakan.

"Untuk Indonesia Raya............................................."

Baca Selengkapnya ....

Google+ Followers