.

Reformasi Pendidikan

Posted by Irma14 Kamis, 04 September 2008 4 comments
"Indonesia Raya Merdeka...Merdeka...
Tanahku... Negriku..Semuaanya.....
Bangunlah Jiwanya... Bangunlah...Badannya...
Untuk Indonesia Raya.............."

Setiap Tanggal 17 Agustus.. atau pada acara-acara seremonial resmi, selalu saja kita mendengarkan lirik lagu diatas. Tapi yang menjadi pertanyaan sekarang adalah apakah kita telah benar-benar merdeka..?
Apalagi di bidang pendidikan. Apakah Pendidikan kita di indonesia telah benar-benar memerdekakan manusia dari kebodohan, dari kekerdilan moral, dari ketamakan, dari keserakahan ?? Apakah kita telah merdeka ??


Mungkin kita semua sepakat bahwa sampai hari ini kita belum merdeka sepenuhnya. Kemerdekaan itu hanyalah sebuah mimpi yang belum menjadi kenyataan di negara kita ini. Tapi apakah kita akan terus-menerus bermimpi ??

" Bangunlah Jiwanya... Bangunlah... Badannya.... "

Ibarat Sebuah komputer (yang kemudian disebut Hardware), tidak akan berguna jika tidak di install program aplikasi (yang kemudian disebut Software). Sehingga Tanpa Software maka Komputer tidak berguna sama sekali. Demikian juga halnya dengan Badan yang tidak memiliki nurani/jiwa.

Ada pesan dari orang tua kita dulu yang kira-kira seperti ini : "Nda' usah mako jadi orang pintar nak, ka banyakmi orang pintar diluar sana, tapi jadilah orang yang berguna untuk orang laen". Pesan inilah yang kemudian harusnya menjadi motivasi kita untuk terus belajar dan meningkatkan kemampuan kita, karna menurut saya untuk menjadi berguna bagi orang lain, tidak ada jalan lain kecuali mempersembahkan karya bagi mereka. dimana karya tersebut adalah hasil dari kerja keras kita.

So... Gimana dengan kemerdekaan di bidang Pendidikan ???

Menurut Andreas Harefa..
"...Seharusnya, proses pembelajaran, apalagi di perguruan tinggi, bertujuan untuk membuat kaum muda bertumbuh menjadi manusia (being human) yang serba siap menghadapi realitas kehidupan nyata. Ia seharusnya menjadi "siap hidup" secara relatif mandiri, tanpa membebani orangtua, pemerintah, dan masyarakat (sarjana kok nganggur). Ia seharusnya menjadi "siap belajar" tanpa harus didampingi lagi oleh pengajar/dosen di sekolah besar kehidupan (sarjana kok nggak baca buku lagi). Ia seharusnya menjadi "siap berkarya", menjadi kontributor aktif dalam proses pemberdayaan masyarakat (bukan malah jadi provokator). Ia seharusnya menjadi manusia yang "siap hidup bersama" dalam aneka ragam perbedaan dengan manusia-manusia lain di masyarakat yang pluralistik seperti Indonesia (tidak kurang gaul atau kuper)...".

Untuk itu kita mesti membangun sebuah paradigma baru dalam dunia pendidikan kita. Sebuah paradigma yang dibangun atas dasar kebutuhan kita untuk menjadi manusia paripurna. karna kita tidak dilahirkan sempurna, namun kita memiliki potensi untuk menjadi sempurna dan untuk itu kita mesti berupaya keras untuk membangun jiwa kita yang mungkin sudah sekarat....

Tegasnya, kita perlu membangun masyarakat pembelajar, yang terutama belajar membagi tugas dan tanggung jawab untuk mendampingi kaum muda mengejar jati dirinya, jati diri komunitasnya, jati diri bangsanya, jati diri kemanusiaannya sebagai ciptaan Tuhan. Kita perlu membangun masyarakat pembelajar, yang tidak lagi dan tidak akan pernah lagi, membuang tunas-tunas bangsa ke lembaga-lembaga pengajaran versi Orde Baru, tetapi yang di dalam maupun diluar institusi formal, sama-sama belajar di Sekolah Besar Kehidupan. Disanalah 'Ketuhanan Yang Maha Esa' dihayati dan langsung diamalkan diam-diam. Disanalah 'Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab' diimplementasikan dan dipraktikkan tanpa slogan-slogan. Disanalah benang-benang 'Persatuan Indonesia' kita jahit kembali dengan hati-hati dan dari hati ke hati. Disanalah 'Kerakyatan yang dipimpin oleh Hikmat dan Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan Perwakilan' kita jalankan setulus hati dengan belajar untuk saling mengerti, saling menyepakati, mengakui kesalahan, dan mengampuni tanpa dendam. Disanalah 'Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia' kita demonstrasikan dengan sikap peduli, rendah hati, dan cinta dalam hidup sehari-hari.
Apakah itu akan mudah? Pasti tidak. Paling sedikit diperlukan satu generasi, 15-25 tahun. Tapi mungkin disitulah tantangannya, dan disitu pulalah harapannya. Dan sepanjang kita mau belajar, baik sebagai pribadi (individual learning), sebagai kelompok (team learning), maupun sebagai organisasi (organizational learning), dan sebagai sebuah masyarakat bangsa (national learning), maka pembelajaran memungkinkan tidak saja reformasi, tetapi juga transformasi dari bangsa yang memalukan menjadi bangsa yang membanggakan.

"Untuk Indonesia Raya............................................."

Jika Anda Berkenan, Bagilah informasi ini kepada teman-teman Anda

Pin It Now!
Categories:
Terima Kasih Atas Kunjungan Anda
Judul: Reformasi Pendidikan
Semoga artikel ini bermanfaat bagi saudara. Jika ingin mengutip, baik itu sebagian atau keseluruhan dari isi artikel ini harap menyertakan link dofollow ke http://irma14.blogspot.com/2008/09/enjoy-ur-self-and-share-ur-joyfull.html. Terima kasih sudah singgah membaca artikel ini.

4 comments:

masisman mengatakan...

tukeran link yukk... ini alamat blog saya
http://masisman.blogspot.com
atau bisa juga di
http:// masisman.co.cc,

kalo sudah ngelink konfirmasi ya, tulis komentar aja di blog saya dan kasih alamat blog/linknya, lam kenal

Gelandangan mengatakan...

wahhhh bagusnya blog ta
sukses selalu

pe mengatakan...

harusnya tujuan akhir dari pendidikan kita adalah bisa mencetak manusia yang siap mempekerjakan bukan siap untuk bekerja.....i support u....

Nikmaya John mengatakan...

Ayo maju terus pendidikan indonesia....

Posting Komentar